Minggu, 15 Juni 2008
Jumat, 04 April 2008
HABITAT DEGRADATION
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman. Tidak hanya budaya, suku, dan agama tetapi juga flora dan fauna. Luasan hutan Indonesia yang berkisar ± 114 juta ha yang terbagi menjadi beberapa fungsi kawasan yaitu kawasan lindung, kawasan produksi dan kawasan konservasi menyimpan banyak keanekaragaman jenis.
Tetapi sangat disayangkan luas hutan Indonesia yang menyimpan keanekaragaman jenis itu dari tahun ke tahun semakin menurun. Hal ini disebabkan karena adanya illegal loging maupun legal loging, dan juga penambangan. Illegal loging yang jelas-jelas dilarang masih belum dapat ditangani, dan juga legal loging yang dilakukan oleh HPH yang menggunakan hak kelolanya untuk mengeksploitasi hutan sebanyak-banyaknya, serta penambangan baik batu bara, nikel, dan lainnya membuat luasan hutan Indonesia menjadi semakin berkurang.
Laju penurunan luasan hutan di Indonesia juga memperlaju penurunan habitat (habitat degradation). Hutan yang merupakan tempat tinggal beraneka jenis satwa kini semakin berkurang. Satwa yang ada di dalamnya kehilangan tempat untuk tinggal, bermain, mencari makan, dan berkembang biak. Sehingga satwa tersebut menjadi terancam karena terus terdesak dengan adanya perubahan fungsi kawasan yang telah menjadi, perkebunan, pertambangan, pertanian, bahkan pemukiman.
Dalam siklus rantai makanan, jika satu elemen dihilangkan maka berakibat kekacauan bagi individu yang lainnya. Kerusakan hutan dapat mengganggu satwa-satwa yang ada di dalamnya, karena hutan dalam rantai makanan berperan sebagai produsen yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Sebagai contoh kebekaran besar-besaran pada tahun 1997 lalu membuat orang utan keluar dari hutan dan mencari makan di sekitar pemukiman penduduk. Ini dikarenakan tempat untuk mereka mencari makan telah terganggu.
Jika kerusakan hutan terus-menerus terjadi maka dikhawatirkan satwa yang ada di dalamnya akan mengalami kepunahan di alam karena penurunan habitat. Profauna mengatakan bahwa “Satwa Liar Tidak Bisa Bicara, Kita Bisa Bicara dan Berbuat Untuk Mereka”, jadi sudah seharusnya kalau kita dari sekarang mulai menjaga dan melestarikan hutan agar kita dapat mengurangi bahkan mencegah kepunahan satwa. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mecegah kepunahan satwa, salah satunya adalah dengan menjaga habitat satwa yang masih ada agar tidak terganggu dan dengan melakukan reboisasi kembali hutan yang telah gundul.
Salam Lestari!!!
Tetapi sangat disayangkan luas hutan Indonesia yang menyimpan keanekaragaman jenis itu dari tahun ke tahun semakin menurun. Hal ini disebabkan karena adanya illegal loging maupun legal loging, dan juga penambangan. Illegal loging yang jelas-jelas dilarang masih belum dapat ditangani, dan juga legal loging yang dilakukan oleh HPH yang menggunakan hak kelolanya untuk mengeksploitasi hutan sebanyak-banyaknya, serta penambangan baik batu bara, nikel, dan lainnya membuat luasan hutan Indonesia menjadi semakin berkurang.
Laju penurunan luasan hutan di Indonesia juga memperlaju penurunan habitat (habitat degradation). Hutan yang merupakan tempat tinggal beraneka jenis satwa kini semakin berkurang. Satwa yang ada di dalamnya kehilangan tempat untuk tinggal, bermain, mencari makan, dan berkembang biak. Sehingga satwa tersebut menjadi terancam karena terus terdesak dengan adanya perubahan fungsi kawasan yang telah menjadi, perkebunan, pertambangan, pertanian, bahkan pemukiman.
Dalam siklus rantai makanan, jika satu elemen dihilangkan maka berakibat kekacauan bagi individu yang lainnya. Kerusakan hutan dapat mengganggu satwa-satwa yang ada di dalamnya, karena hutan dalam rantai makanan berperan sebagai produsen yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Sebagai contoh kebekaran besar-besaran pada tahun 1997 lalu membuat orang utan keluar dari hutan dan mencari makan di sekitar pemukiman penduduk. Ini dikarenakan tempat untuk mereka mencari makan telah terganggu.
Jika kerusakan hutan terus-menerus terjadi maka dikhawatirkan satwa yang ada di dalamnya akan mengalami kepunahan di alam karena penurunan habitat. Profauna mengatakan bahwa “Satwa Liar Tidak Bisa Bicara, Kita Bisa Bicara dan Berbuat Untuk Mereka”, jadi sudah seharusnya kalau kita dari sekarang mulai menjaga dan melestarikan hutan agar kita dapat mengurangi bahkan mencegah kepunahan satwa. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mecegah kepunahan satwa, salah satunya adalah dengan menjaga habitat satwa yang masih ada agar tidak terganggu dan dengan melakukan reboisasi kembali hutan yang telah gundul.
Salam Lestari!!!
Kamis, 27 Maret 2008
TNK apa kabarmu?

Dari hari ke hari TNK selalu mengalami perubahan entah membaik atau malah memburuk, tapi akhir-akhir ini TNK semaki mengalami kemunduran mulai dari pagar pembatasnya yang di kiri kanan jalan sudah tidak ada lagi hingga pembukaan lahan yang besar-besaran untuk lahan pertanian. Padahal dapat dilihat banyakknya papan peringatan yang dipasang dengan berbagai model dan tipe yang disertai larangan-larangan di dalamnya dan pidana yang dapat diberikan bagi yang melanggar.
Sampai kapan hal ini terus terjadi????
Apakah sampai TNK benar-benar tidak ada lagi???
apakah TNK (Taman Nasaional Kutai) harus berganti artinya menjadi TNK (Tinggal Nama dan Kenangan)!!!
Selasa, 18 Maret 2008
Papan Peringatan yang Tak Berarti
Banyak sekali tanda-tanda larangan di sekitar kita yang hanya menjadi hiasan saja, tanda-tanda tersebut dipasang di berbagai tempat tetapi tidak ada satupun yang memperhatikan dan bahkan malah melanggar tanda-tanda laranga tersebut. Sebagai contoh di TNK terpasang beberapa tanda pemberitahuan bahwa lahan tersebut dilindungi undang-undang dan dilarang menebang, membakar serta melakukan kegiatan perladangan di dalamnya dan masih ada lagi larangan yang tercantum,bahkan tertera pula hukuman bagi yang melanggar pemberitahuan pada papan tersebut, tetapi pada kenyataannya kegiatan tersebuh malah banyak terjadi dan sepertinya tidak ada tindakan apa-apa untuk mengatasinya. Tidak hanya di TNK saja ada juga tanda-tanda larangan yang sepertinya memang tidak pernah diindahkan lagi oleh masyarakat (ya.... walaupun tidak semuanya, ada juga masyarakat yang baik yang mau mematuhinya!!!) contohnya rambu-rambu lalu litas yang ada di setiap jalan, larangan untuk tidak merokok di ruang berAC, dan masih banyak lagi. Memang kita pintar membuat peraturan tetapi untuk dijalankan amatlah sulit. Sepertinya ungkapan yang mengatakan "Peratutan Dibuat untuk Dilanggar" sangat cocok menemani keseharian kita saat ini!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)